Umpan Balik

Oleh: Adhy Trisnanto

Ada boss yang nyaris tak pernah berkomentar tentang kinerja anak-buahnya. Kalau kita intip dia dalam ruangannya yang super dingin, kelihatan dia sibuk dengan pekerjaannya sendiri: duduk di depan laptop, matanya konsen. Atau dia sedang berbincang dengan tamu-tamunya yang wangi dan rapi. Jauh dari kesan serius, perbincangannya sering disela ketawa lepas. Sungguh beda wajah berkerut di depan laptop dengan suara tawa yang terdengar. Wajah berkerut menyiratkan demikian banyak beban pikiran si boss, suara tawa seakan segala urusan selesai dengan gampang.

Waktunya lebih banyak dihabiskan sendirian di ruangannya yang besar. Paling kadang dia memanggil sekretarisnya yang tergopoh-gopoh membawa setumpuk dokumen. Atau tim keuangannya yang sama saja masuk ke ruang boss sambil membawa map-map. Dalam meeting dia juga jarang memberi komentar. Meeting lebih bersifat mendengar apa kata anak-buahnya, dan boss mengambil keputusan dengan gaya meyakinkan. Atau, tidak mengambil keputusan apapun, dan masalahnya jadi menggantung. Para anak buah sering bertanya-tanya soal kinerjanya: sudahkah di depan boss saya dinilai baik, setengah baik, atau buruk.

Ada dosen yang selalu mengajukan pertanyaan kepada mahasiswanya. Dia mencoba mengecek apakah mahasiswa-mahasiswanya benar-benar paham dengan apa yang dia ajarkan. Ada mahasiswa yang suka menjawab, bahkan rajin bertanya. Kadang pertanyaannya bikin pusing sang dosen karena jadi kewajibannya untuk menjawab berlandaskan teori yang dia ajarkan, bukan menjawab dengan berimprovisasi. Tapi sebagian besar isi ruang kelas lebih banyak diam.

Setiap kali dosen bertanya, ada saja kesibukan yang ditunjukkan mahasiswanya. Pura-pura menulis, atau berdiskusi dengan teman sebelah, atau menghindari pandangan mata dosen. Kalau kelas terasa mati, sang dosen memakai jurusnya yang lain: memberi kasus untuk didiskusikan kelompok. Jumlah anggota kelompok dibatasi. Maksudnya supaya masing-masing orang terpaksa aktif. Karena apa gunanya dia ngajar, kalau sebenarnya mahasiswa hadir cuma agar absensinya terisi. Cara diskusi relatif lebih efektif ketimbang dia berbicara tanpa putus, makin banyak mahasiswa yang mengantuk. Meskipun demikian sang dosen sering bertanya-tanya: sudahkah mahasiswa-mahasiswa saya menyerap dengan tepat apa yang saya sampaikan.

Dalam segala sesuatu kita memang butuh respon, tanggapan. Apa jadinya kita sudah ngobrol panjang lebar, eh ternyata yang kita ajak ngobrol seorang tunarungu. Dalam komunikasi, tanggapan ini disebut umpan balik. Ada orang yang dengan cepat dan antusias memberi tanggapan, baik positif maupun negatif. Kita senang karena menjadi tahu apakah ide yang kita sampaikan diterima atau ditolak. Ada yang lamban menanggapi, dan tanggapannya juga bisa positif maupun negatif. Menghadapi situasi demikian sebaiknya kita bersiap-siap dengan jurus memancing tanggapan supaya lebih cepat keluar. Tapi jangan salah, ada yang tidak memberi tanggapan sama sekali. Mungkin karena tidak berminat, mungkin juga karena budaya menanggapi belum jadi budaya. Kata orang, kita memang tidak dididik untuk menanggapi, tapi sekedar menelan. Maka jangan heran, kita ini jago-jago menghafal segala sesuatu. Meskipun jangan pula heran, belum tentu kita paham benar apa yang kita hafal itu.

Kita butuh umpan balik, karena umpan balik adalah masukan yang memberi gambaran dengan jelas, bagaimana orang merespon apa yang kita sampaikan, apa yang kita kerjakan. Umpan balik akan memperkaya ide kita, memperbaiki kinerja kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *