Ternyata

Oleh: M. Adhy Trisnanto

Siaran teve kita sering bikin jengkel.

Coba saja, seseorang dijadikan obyek, dikuras habis ceritanya. Udah gitu diulang-ulang terus dalam serentetan hari. Seakan-akan tidak ada hal lain yang lebih penting ketimbang orang tadi dan apa yang menimpanya. Di bagian lain, pesan yang mestinya bernas dikemas seperti lawakan. Penonton dirangsang untuk tertawa karena peragaan sebuah kekonyolan tapi pada detik berikutnya diajak merenungi sesuatu yang (sebenarnya) teramat luhur. Dan di bagian lain lagi, penonton disuguhi panggung debat, yang kadang-kadang demikian kasar. Kebenaran bisa dijungkirbalikkan. Putih jadi hitam, hitam jadi putih. Penonton yang waras pun bisa diombang-ambingkan dari pikiran satu ke pikiran lain. Siaran teve benar-benar sudah jadi industri. Semua hal, korupsi-sidang DPR-kenaikan harga-selingkuh-kecelakaan-bencana-kriminal dikemas sebagai hiburan di balik istilah infotainment. Kita harus memaknainya bukan sebagai hiburan yang informatif, melainkan informasi yang menghibur. Teve mengedepankan fungsi hiburan, dan mengebelakangkan fungsi pendidikan. Kalau sudah begini, berani taruhan orang yang setia menonton siaran teve dari pagi sampai pagi lagi tidak akan makin cerdas, tapi malah makin bodoh. Padahal teve, demikian pula media yang lain, mengemban amanat konstitusi, “mencerdaskan kehidupan bangsa”…

Para perancang program senantiasa berkilah kalau masyarakat kita emang demennya ama program-program seperti itu. Nyatanya rating program konyol selalu ada di peringkat atas. Pikiran demikian sama saja dengan mengatakan kalau orang jaman ini sukanya narkoba, ya marilah kita gelontorkan narkoba sebanyak mungkin. Teori mengenai rating sebagai satu-satunya ukuran efektivitas dan efisiensi iklan sebenarnya sudah ketinggalan jaman. Karena nyatanya program ber-rating tinggi tidak menyebabkan penonton otomatis menonton iklannya.

Merasa nyaman dalam pola pembodohan memang sikap yang paling mudah diambil. Memproduksi acara bermutu tentu saja berimplikasi ke dana, dan ada wilayah resiko yang kelabu. Padahal teve –dan media lain- tidak harus bersikap demikian. Kita bisa mengambil contoh film-film bermutu semacam Laskar Pelangi yang nyatanya mampu menyedot penonton. Bukankah dalam arus film-film horor dan vulgar, film begini juga melawan arus?

Jadi  memang media bisa berbuat lain. Lihat saja program-program pengetahuan luar biasa yang dapat kita saksikan lewat TV Berbayar. Atau cerita tentang berbagai tempat menarik di dunia. Atau film-film bermutu yang membawa pesan tertentu. Tak usah jauh-jauh, lihat saja Ekspedisi Cincin Api yang membuka mata kita tentang Indonesia yang kaya gunung berapi. Memberi pemahaman-pemahaman baru tentang Danau Toba, atau Rinjani, atau Merapi. Mereka menyebutnya beyond journalism.

Kita berharap senantiasa ada orang yang terpanggil untuk berbuat yang lebih baik. Sejarah peradaaban manusia membuktikan, ada cukup banyak orang semacam itu di setiap jaman. Memang Allah tak pernah tidur, Dia senantiasa menjagai kita..

 

[ttn]

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *