Siklus

Oleh: AM Adhy Trisnanto

Geli membayangkan ulat bulu yang menempel di mana-mana: di tanah, di dinding, di pohon, di atap rumah. Tentu saja juga di baju, di kepala. Konon, “hama” ulat bulu terjadi karena cuaca ekstrim. Mestinya sudah jadi kepompong, tertunda masih saja jadi ulat. Seandainya siklus metamorfosis lancar, ulat bulu yang menggelikan itu mungkin sudah jadi kupu-kupu yang indah. Orang tidak perlu sibuk melepas burung predator. tidak perlu beristighasah menangkal “hama” ulat bulu. Media juga tidak perlu repot mengirim reporternya.

Alam mengajarkan siklus kepada kita. Lihat saja, pagi-siang-sore-malam, kemarin-hari ini-besok, hujan-panas, bayi-anak-remaja-dewasa-tua. Siklus ini otomatis terjadi. Kawanan burung pindah dari belahan bumi satu ke belahan yang lain karena mereka paham benar tanda-tanda alam yang memberi kabar tentang pangan yang segera habis. Subhanallah, mereka yakin benar bahwa di tempat baru akan ada makanan. Lihat juga perilaku ayam. Mereka sibuk mencari makan di pekarangan, mematuk kian kemari. Ketika hujan turun, mereka bergegas mencari tempat berteduh. Tetapi, ketika hujan berubah jadi gerimis, mereka kembali sibuk mencari makan. Seakan mereka tahu gerimis akan lama, padahal perut perlu diisi.

Bisnis juga mengenal siklus. Lahir-tumbuh-dewasa-merosot-mati. Teorinya, sebelum merosot, lakukan perubahan untuk memodifikasi bisnis. Yang kreatif akan mampu membentuk alur siklus baru. Mereka ”nggak bakalan” mati, atau lebih tepatnya, lahir kembali. Sama halnya dengan kawanan burung dan ayam, konon manusia dianugerahi indera keenam, untuk mengenali tanda-tanda siklus. Kalau penjualan makin lama makin turun, itu berarti produk sudah jadi produk masa lalu alias ”jadul”. Perlu ada pembaharuan, bisa komposisi, warna, aroma, ukuran, atau kemasan. Coba perhatikan botol shampo yang berjajar rapi di rak-rak supermarket. Selalu ada kemasan baru yang mendorong kita untuk setia menggunakan merek tertentu. Pembaharuan bahkan bisa ”sekadar” kesan, atau posisi baru. Restoran ayam goreng diubah konsepnya jadi kafe. Ia bukan lagi tempat kita menghilangkan rasa lapar, tapi tempat kita asyik ngobrol.

Nah, kalau satwa punya insting mencandai siklus alam, manusia, entah kenapa, perlu memberi predikat indera keenam untuk perkara ini. Hanya untuk yang sering terjadi, kita mampu membaca alam. Kalau ada guruh, kilat dan awan mendung, dengan cepat kita membuat simpulan hujan lebat akan turun. Padahal perubahan bisa terjadi dengan cepat, sehingga kita alpa menafsir alam. Sekarang panas, tapi tiba-tiba saja hujan turun.

Apalagi untuk bisnis. Seringkali kita sadar setelah perubahan memberi akibat. Cubitan sering tidak kita perhatikan, bahkan pukulan sekali dua belum juga mampu menarik perhatian serius. Padahal manajemen mengajar kita tentang studi dan riset. Tapi membaca sekumpulan angka-angka atau setumpuk laporan hasil riset, sering dianggap pekerjaan membosankan. Orang cenderung lebih percaya kepada feeling. Hanya perusahaan-perusahaan besar yang sadar akan riset. Mereka sangat peduli terhadap tanda-tanda yang mendahului perubahan besar. Mereka yang mampu menyisihkan waktu dan perhatian untuk itu akan menarik manfaat besar. Mereka lebih peka terhadap perubahan. Mereka lebih siap mengantisipasi prahara.

Jadi, jangan tunggu hujan ulat bulu!

 

 

 

 

[ttn]

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *