Siklus Hidup

Oleh: M. Adhy Trisnanto

Pemandangan musim gugur memberi sensasi warna yang sangat menawan. Nuansa hijau, kuning, merah, coklat berselang-seling menjadikan kita terpesona. Angin yang bertiup lebih kencang dari biasanya, merontokkan daun-daun yang memang sudah kecoklatan. Jalan-jalan tertutup serakan dedaunan.

Musim gugur selalu diikuti musim dingin, putih salju ada dimana-mana. Di atap bangunan, di taman, dan di jalanan. Lalu akan datang musim semi. Disebut semi karena dunia seakan-akan bersemi. Salju mencair, jelujur cabang-cabang pohon dengan tunas-tunas daun yang baru merambah kemana-mana, seakan berlomba tumbuh, dan bunga-bunga ikutan bermekaran. Begitulah, sebelum kita mengenal fashion, alam sudah lebih dahulu kenal. Memang dalam banyak hal (atau malah segala hal?) kita selalu belajar dari alam semesta. Peristiwa alam selalu terjadi berselang-seling silih berganti, peristiwa alam senantiasa berulang. Kita menyebutnya siklus.

Karena kita belajar dari alam, dan karena kita tak suka bosan, segala sesuatupun kita buat lekat dengan siklus. Marketing mengajarkan kita tentang siklus hidup produk, branding mengajar kita tentang siklus hidup merek. Yang baru diluncurkan dengan ikhtiar kita akan jadi diketahui khalayak. Yang sudah diketahui dibuat sedemikian rupa sehingga khalayak penasaran mencari tahu lebih banyak. Kita mendorong-dorong orang untuk menggunakan produk atau merek kita. Kita membuat pengguna produk dan merek kita untuk makin jatuh cinta dan setia. Kita menjagainya dari serbuan pesaing, yang tidak bisa tidak akan selalu muncul di sekitar kita. (bukankah pesaing ini yang menjadikan kita waspada sehingga sadar bahwa tidak ada zona aman berkepanjangan yang bisa kita nikmati?).

Kita membuat mereka setia, sampai pada suatu masa dimana produk dan merek kita ternyata makin uzur dan ditempatkan sebagai dinosaurus, fosil yang pada jamannya dulu pernah perkasa menguasai jagad raya… Itulah tanda saat-saat ajal sudah dekat. Dan para pakar mengajarkan agar kita membuat inovasi produk dan meremajakan brand untuk menunda kematian. Memang ada yang sangat cerdas, sehingga produk dan brand-nya tak kunjung mati. Seperti film-film Tiongkok yang mempertontonkan kesetiaan rakyat kepada kaisarnya, ketika beramai-ramai menjura sambil melantangkan doa panjang umur untuk kaisarnya. Maka ketika khalayak tidak lagi merasa nyaman memakai produk dan brand kita, mungkin karena muncul substitusinya yang dirasa lebih istimewa, mungkin juga karena pemilik produk dan brand ¬†lengah, masuk dalam zona aman, lupa melakukan pembaharuan, mungkin karena pemilik ini jadi lupa daratan, lalai bersyukur atas nikmat yang diberikan Sang Pembagi Nikmat…

Waktupun tak luput dari siklus. Kemarin berlanjut hari ini, dan hampir yakin besok akan menggantikan hari ini. Desember juga akan lewat diganti Januari. Selalu begitu, karena kesepakatan tentang waktu belum diubah. Yang harusnya membedakan adalah, bagaimana kita mau mengisi waktu ini. Apakah Januari akan sama saja dengan Desember? Atau malah lebih mundur? Atau kita bertekad menjadikannya jauh lebih baik lagi. Semuanya sebenarnya berpulang kepada kita, meskipun Allah SWT konon suka kepada makhluk-Nya yang beikhtiar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *