REDA

Oleh: Adhy Trisnanto

Hujan rintik-rintik tidak dirasakan sebagai gangguan. Orang-orang tetap saja lalu-lalang di jalan tanpa jas hujan, topi, maupun payung. Hujan rintik-rintik memberi bau tanah yang enak. Tapi begitu hujan menderas, apalagi disertai angin yang gemuruh dan petir menggelegar seolah membelah langit, orang-orang yang semula berjalan santai tiba-tiba berhamburan mencari tempat berteduh. Pengendara motor berhenti di emper-emper bangunan atau di bawah pohon rindang. Membuka bagasi, mengambil jas hujan. Bahkan ada yang melepas sepatu berganti sandal. Mungkin karena terdesak waktu selepas itu mereka kembali melanjutkan perjalanannya dengan bergegas.

Pada saatnya hujan sederas apapun akan reda, dalam hitungan menit, atau jam, atau hari. Begitu reda kita tinggal meratapi akibatnya, dari yang kecil sampai yang berat. Dari jemuran tidak kering, sampai sampah yang berserakan di mana-mana, dan banjir yang meninggalkan lumpur serta merusak perabotan. Tapi jangan lupa, hujan juga membasahi tanah-tanah kering, mengisi kembali sediaan air tanah. Demikianlah memang tradisi alam, ada plus ada minus, dan yang mentakjubkan plus dan minus ada dalam keseimbangan.

Kehidupan sebagai bagian dari penyelenggaraan semesta menganut tradisi yang sama. Film  kehidupan selalu punya adegan-adegan yang datang dan pergi, muncul dan reda silih berganti. Meskipun ada istilah “bayi tuwa” (bayi tua) namun tidak pernah ada bayi yang berlama-lama tetap jadi bayi. Yang dimaksud dengan “bayi tuwa” adalah orang yang bukan bayi tapi punya karakter mirip bayi. Pesta akan usai pada saatnya. Kesibukan pesta akan reda untuk kemudian lenyap seiring berjalannya waktu. Meninggalkan rasa senang, modal untuk kenangan manis, tapi juga kelelahan, dan mungkin… utang. Kesedihanpun sama saja. Reda pada saatnya sadar atau tidak bahwa itu adalah bagian tak terelakkan dalam kehidupan, kemudian kesedihan akan lenyap ditelan waktu.

Reda adalah lawan kata muncul atau hadir. Untuk hal positif (yang sering dimaknai sebagai suatu keadaan yang selaras dengan harapan kita), kemunculan atau kehadirannya disambut dengan rasa syukur. Dan ketika reda rasa kehilangan yang menggantikannya. Sebaliknya untuk hal negatif (yang sering diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak selaras dengan harapan kita), kemunculannya disambut dengan kekecewaan, bahkan mungkin marah. Dan ketika reda rasa lega yang menggantikannya. Orang sering lupa, bagaimana mungkin ada segmen baru kehidupan kalau segmen yang lama masih saja belum reda.

Alangkah bijaksananya seseorang ketika tiba saat reda, dia mampu melakukan perenungan, mencari hikmah dari peristiwa yang dialaminya, dan tetap bersyukur atas Kasih Sayang Allah SWT. Reda adalah saat berganti adegan kehidupan. Tidak ada yang perlu sangat diratapi, atau sangat disesali.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *