Raja

Oleh: Adhy Trisnanto

Maret kemarin Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, membalas kunjungan Presiden Joko Widodo sekian tahun berselang. Rombongan sang raja konon berjumlah 1.500 orang, mulai dari pangeran, putri dan menteri sampai para penjaga keamanan. Barang yang dibawa bagi kita terasa rada aneh, termasuk kursi dan tangga eskalator. Sambutan masyarakat luar biasa, lebih dari sambutan terhadap tamu-tamu kenegaraan yang lain. Bisa diukur dari jumlah orang yang antusias mengelu-elukan di sepanjang jalan (baik dikerahkan maupun karena dorongan kemauan sendiri), dan juga dari liputan media yang seolah mengamati segala gerak-gerik sang raja dan rombongannya. Kedatangan Raja Salman mendorong disepakatinya 11 nota kesepahaman dalam berbagai hal dengan nilai investasi sejumlah 93 triliun rupiah. Termasuk penambahan jumlah kuota haji 52.200 jemaah sehingga menjadi 221 ribu. Berita yang melegakan banyak orang mengurangi risau lama menunggu berangkat. Istirahat sang raja dan rombongan di Bali yang kemudian diperpanjang waktunya, memberi isyarat baik bagi para pelaku industri pariwisata karena diyakini akan mendorong wisatawan Timur Tengah berbondong-bondong berkunjung ke Bali.

Kisah tentang raja, selalu menarik perhatian. Termasuk raja yang ini, durian, the king of fruit. Entah kenapa durian digelari raja buah. Mungkin karena ukurannya, mungkin juga karena lezatnya. Memang ada orang yang tidak suka durian, entah lantaran aromanya, atau rasanya. Tapi penggemarnya bukan main banyaknya. Lihat saja mal atau perumahan baru yang sering menggelar festival durian untuk menarik pengunjung dan pembeli. Tidak pernah sepi! Orang rela antri untuk mendapat kesempatan memilih dan melahap durian. Padahal harganya biasanya lebih tinggi dari harga pasar. Penggemar durian bisa berburu durian setiap kali ke luar kota. Masing-masing kota punya durian yang di lidah penikmat punya kekhasan sendiri-sendiri.

Ada lagi buah lain yang menyandang gelar raja: pisang raja. Ukuran pisang raja memang tidak sebesar pisang Ambon, tapi juga tidak sekecil pisang susu. Tampilannya tidak secantik pisang Cavendish yang kuning mulus. Meskipun memang pisang raja sudah lebih dulu ada sebelum ada pisang Cavendish. Mungkin pisang yang satu ini digelari raja karena kenikmatan yang didapat ketika dimakan. Kemampuannya mengurangi rasa lapar mungkin juga jadi penyebab gelar raja.

Ada lagi raja yang lain, raja rimba. Sebagian menganggap singa-lah raja rimba, sebagian lagi merajakan harimau. Raja yang ini sering digambarkan sebagai binatang buas yang perkasa, yang bisa menyantap manusia dan binatang lain. Aumnya menggetarkan seisi hutan, membuat gentar siapa saja yang mendengarnya. Dibalik cerita tentang kebuasannya, ada juga cerita tentang sisi baik raja rimba. Film Lion King dan The Lion Guard tidak mempertontonkan kebuasan seekor singa, sebaliknya  menuturkan karakter-karakter baiknya. Dari film-film kehidupan singa dan harimau yang bisa kita tonton di teve berbayar kita jadi tahu kasih sayang yang ada dalam keluarga singa dan harimau.

Guru Bahasa Indonesia kita di sekolah dulu mengajarkan tentang peribahasa berbunyi : Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Nah, sebagaimana selalu ada gelap ada terang, demikian pula ada raja lalim dan ada raja adil. Raja tidak selalu sebijak Raja Salman sebagaimana kesan seorang pastur di Bali setelah sempat bertatap muka dengan sang Raja. Sejarah Nusantara sendiri menyimpan sejumlah cerita raja lalim. Misalnya Amangkurat I yang tidak segan-segan membunuh orang yang tidak sejalan dengannya. Keagungan seorang raja mudah membuat kita terkagum-kagum. Tetapi kekaguman paling dalam seharusnya ada ketika seorang raja berbuat banyak untuk kesejahteraan rakyatnya. Akhirnya yang berlaku toh nilai seseorang bergantung kepada manfaat keberadaannya bagi orang banyak..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *