Penanda

Apakah Anda pernah mempertanyakan hitungan awal hari pukul 00.00? Dengan cara seperti itu umumnya orang jarang merasakan dimulainya hari baru. Kebanyakan kita tidur lelap saat itu, kecuali kita punya profesi sebagai penjaga malam, atau punya profesi yang mewajibkan kita “jaga malam”. Tapi kadang-kadang karena terjaga kita sempat mendengar jam berdentang duabelas kali. Dalam keheningan malam dentang jam itu seakan bergema di telinga.

Dentang jam menjadi penanda waktu. Bukan sekarang ini saja manusia memiliki penanda waktu. Kalau kita gemar menonton film kungfu sering ada adegan di mana petugas keamanan menelusuri lorong-lorong dan membunyikan sejenis kentongan pada waktu-waktu tertentu. Ketentuan waktu berangkat dari keputusan pihak berwenang, mungkin berdasarkan usulan para ahli. Penanda memang memudahkan kita mengenali segala sesuatu. Bayangkan saja kalau seseorang dikubur tanpa nisan di tengah-tengah padang luas yang datar. Bagaimana mungkin menandai letak makamnya ketika kita mau menziarahinya? Mending kalau ada pohon atau apapun yang bisa dijadikan penanda. Dalam dunia bisnis, penanda (signage), sudah dipakai sejak jaman dulu. Tukang daging memasang tanda di depan kiosnya dengan gambar potongan daging paha. Penanda semacam ini lazim dipakai ketika kita belum mengenal penomoran rumah. Bahkan setelah penomoran rumah dipakai sebagai penanda, tukang potong rambut masih saja menggunakan penanda silinder bergaris merah-putih yang berputar pada porosnya. Sampai hari ini beberapa barber shop masih menggunakan penanda semacam itu.

Adzan juga menjadi penanda panggilan untuk menegakkan sholat. Alunan adzan memudahkan kita mengenali waktu sholat telah tiba. Bayangkan seandainya tidak ada adzan, kita harus mengukur bayangan kita untuk menandai waktu sholat. Mungkin dulu hal semacam itu masih biasa, tetapi jaman ini rasanya aneh kalau kita harus mengukur-ukur panjang bayangan, atau melihat ufuk langit, untuk menentukan waktu sholat. Aneh dan ga praktis… Padahal kalau direnungkan lebih dalam, alasan kepraktisan seringkali justru menjebak kita kepada hal-hal yang instan yang menjadikan kita kehilangan kepekaan terhadap alam. Coba saja, siapa di antara kita yang masih memperhitungkan kokok ayam jago untuk menandai pagi hari? Kita lebih percaya kepada jam dinding. Siapa di antara kita yang masih mampu membaca wedus gembel sebagai penanda gunung mau meletus? Kita lebih percaya kepada laporan BMKG.

Kalau mau menukik lebih dalam: siapa di antara kita yang masih mampu membaca kegelisahan jiwa sebagai sebuah penanda yang sangat alamiyah? Kayaknya demikian banyak orang sudah melupakan hal yang sangat lumrah itu. Nyatanya, sekalipun alarm alamiyah itu berbunyi, toh orang tidak merasa terganggu lagi untuk melakukan perbuatan yang tidak benar. Anehnya, walau kemudian yang bersangkutan diberi penanda buatan manusia (jaket orange bertulis Tahanan KPK) sama juga ga ngefek. Tetap saja mampu tertawa ngakak, malah ada yang masih saja bisa galak…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *