Pak Ogah

Oleh: AM Adhy Trisnanto

Setiap keadaan pasti akan memberi peluang bisnis. Ketika musim hujan tiba, mantel hujan jadi laku. Bukan saja mantel untuk berhujan-hujan, tapi juga mantel untuk menghangatkan badan dalam ruang kantor yang dingin ber-AC. Sebaliknya waktu musim panas, permintaan sup buah, jus terong belanda, es cincao, dan sejenisnya meningkat, mengalahkan keinginan menyeruput teh nasgitel (panas-legi-kentel).

Begitu juga dengan maraknya Pak Ogah di seantero Jakarta. Mereka muncul seiring banyaknya orang bawa mobil dan motor memenuhi jalan-jalan. Situasi “ramai lancar” hanya ada di jelang larut malam atau lepas subuh, atau saat hari-hari libur panjang.  Persis seperti semut beriring, yang akan berkelok ramai-ramai saat di depannya ada penghalang, demikian pula kita, manusia. Kalau jalan besar padat merayap, ya masuk saja ke jalan yang lebih longgar. Jalan busway misalnya (aneh amat istilah busway ini). Tapi siapa yang berani masuk ke jalan ini sekarang? Ancaman denda setengah juta rupiah pasti membuat semua orang akan mikir: manfaat nerobos jalan busway nggak seimbang dengan dendanya. Atau jalan-jalan tikus, jalan-jalan alternatif

Ketika pengguna jalan alternatif makin banyak, karena setiap kepala berpikir sama: ini pilihan terbaik ketimbang stagnan di jalan, beberapa orang berpikir untuk menjual jasa melancarkan yang ruwet. Jasa Pak Ogah. Bottle neck adalah “neraka” buat pengguna jalan, sebaliknya “surga” bagi pak Ogah.  Meskipun kadang dalam keadaan emosional akibat jalan macet, pengguna jalan yang sudah di (coba) lancarkan bukannya memberi selembar duit lusuh malah sebaliknya mengumpat-umpat.

Coba diamati, bagaimana Pak Ogah menyikapi beraneka ragam tipe manusia yang dihadapinya? Ada contoh-contoh yang bisa dijadikan telaah menarik yang saya alami nyaris tiap hari. Yang satu Pak Ogah berpenampilan rapi, bersepatu, berkopiah putih bak seorang haji (mudah-mudahan beliau memang sudah pernah dimuliakan sebagai tamu Allah), memang operasinya di dekat masjid. Senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Dengan tenang dia menuntun mobil dan motor yang perlu didahulukan, dan menyetop mobil dan motor yang bisa ditunda jalannya. Tidak pernah ada protes terdengar dari mereka yang distop. Sebaliknya banyak pengendara mobil dan motor yang didahulukan menyerahkan sesuatu dalam genggaman kepada beliau.

Satu lagi Pak Ogah yang senantiasa berpasangan. Baju mereka lusuh, tanpa alas kaki, celana pendek. Lebih sering berkeringat ketimbang segar. Yang satu cukup jelas etniknya, Tionghoa. Dan justru dia yang menarik. Bahasa tubuhnya dalam gerakan lentur ketika meminta mobil-motor berhenti pasti dimaknai orang sebagai memohon. Gesturnya ketika mempersilahkan mobil-motor jalan juga mengisyaratkan permintaan maaf telah mengganggu perjalanan, dan ungkapan terima kasih karena bersedia bekerja sama. Wajahnya jarang senyum dan senantiasa dipasang serius.

Sepintas, cara dua tokoh kita ini beda ketika melakukan pekerjaan yang sama. Tapi jika dikaji lebih jauh sebenarnya yang mereka lakukan adalah mengundang empati orang agar tugasnya bisa berjalan lancar. Mereka ikhlas menjalani pekerjaan sederhana itu. Senyumnya menandai keikhlasan itu. Saya takjub menyaksikan Pak Ogah yang rapi yang tidak malu menjalani rutinitasnya untuk menghidupi keluarga. Saya hormat kepada Pak Ogah lusuh yang serius menekuni tugasnya juga untuk menghidupi keluarga. Mereka jauh lebih mulia ketimbang koruptor-koruptor. Mudah-mudahan kita masih mampu menangkap kemuliaan yang sama dalam perbuatan-perbuatan kecil.

Semoga Yang Rahman dan Rahim senantiasa melimpahkan Cinta-Nya kepada orang-orang sederhana yang mulia ini. Aamiin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *