Memperbaharui Asa

Oleh: M. Adhy Trisnanto

Buat seorang bocah, ulang tahun adalah waktu yang teramat menyenangkan. Ada baju baru, ada makanan lebih enak, ada bingkisan ulangt ahun. Jadi pusat perhatian kakak, ayah, bunda, lebih-lebih kakek dan nenek, bahkan teman-teman sekolah. Keceriaan seorang anak, memang nyaris tanpa beban.

Lain lagi ceritanya buat orang yang lebih berumur. Ulang tahun adalah momentum untuk bersyukur. Bahwa kita masih diberi hidup dengan segala kelimpahannya: mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah untuk merasa, kulit untuk meraba, hidung untuk membau, otak untuk berpikir, hati untuk memberi sentuhan rasa memperkaya olah otak, mulut untuk menyampaikan apa yang kita pikir dan rasakan. Kita masih diberi kesehatan, masih punya keluarga yang menyayangi kita dan yang kita sayangi, masih punya teman dan sahabat, masih punya mata pencaharian. Bukan main semua kemewahan yang sudah dan masih akan kita dapat secara cuma-cuma itu.

Rasa syukur itu lalu memberi harapan akan hari-hari yang lebih baik. Dan harapan jadi pemacu untuk menciptakan keadaan yang lebih baik lagi. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Apanya yang lebih baik? Apakah ada kepastian keadaan hari esok akan lebih baik dari hari ini? Pasti tidak. Masa yang akan datang tak pernah terang benderang. Bahkan film dan buku tentang para peramal tidak pernah bertutur tentang  seorang peramal yang mampu membaca dengan sangat jelas masa depan seseorang. Paling-paling terawangannya menghasilkan gambar yang masih perlu ditafsir. Dan kalau bicara tentang tafsir pasti tafsir seorang akan beda dengan tafsir orang lain. Kalau bukan keadaannya yang pasti akan lebih baik berarti yang bisa dipastikan adalah ikhtiar untuk mencapai keadaan tertentu.

Syukur, harapan, ikhtiar adalah sebuah proses terus menerus berkelanjutan dan berkesinambungan dalam hidup ini. Kita tidak mungkin bersyukur manakala kita tidak memiliki harapan akan masa depan. Sebaliknya mana mungkin kita berharap kalau tidak pernah mengalami saat yang membahagiakan. Karena ada harapan lalu kita termotivasi untuk berbuat, berikhtiar. Dan ketika ikhtiar kita kurang berhasil kita akan kembali kepada harapan kita, mengobar-kobarkan harapan kita. Sebaliknya ketika ikhtiar kita berhasil kita akan bersyukur atas segala kesempatan yang ada. Syukur dan harapan itu wilayah yang cenderung spiritual, sebaliknya ikthiar itu wilayah yang cenderung duniawi.

Seorang anak paling-paling berhenti pada rasa senang dan keinginan, bukan rasa syukur, dan tidak sampai kepada harapan. Seorang dewasa seyogyanya mengembangkan rasa syukur, membesar-besarkan harapan, dan berikhtiar hidup lebih baik. Ucapan selamat dari keluarga dan sahabat, demikian pula pesta ulangtahun dengan limpahan kado, tidak boleh menyingkirkan proses bersyukur, berharap dan berikhtiar yang memang jauh lebih penting.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *