Melihat Cerah

Kita masih sering mengalami pemadaman listrik. Sekedar mengusir gelap relatif gampang karena banyak dijual lampu darurat. Tapi payahnya kita makin dimanja oleh bermacam piranti elektronik dari pengering rambut, pompa air, sampai pendingin ruangan. Tidak seperti lampu tinggal pakai emergency lamp, piranti elektronik butuh generator pembangkit tenaga listrik. Sesuatu yang kebanyakan tidak kita miliki sehingga kita sering bersungut-sungut kegerahan.  Listrik padam lalu memengaruhi suasana hati kita. Gelisah, mengipas-kipas diri, berharap-harap listrik segera nyala kembali, dan kehidupan bisa berjalan “normal.” Kegerahan bisa memperburuk temperamen, mampu mengusir wajah cerah.

Warna cerah membuat suasana ceria, berkebalikan dengan warna suram. Demikian pula langit biru yang cerah menjadikan kita bergairah, berlawanan dengan langit berawan gelap menggumpal-gumpal. Wajah cerah memberi kesan ramah, santun, dan empatif, beda dengan wajah muram mulut melengkung ke bawah. Pebisnis sangat piawai memanfaatkan hal-hal demikian. Memainkan komposisi warna untuk produknya. Mainan anak-anak selalu diberi warna cerah, dan setahu saya tidak ada kapsul obat berwarna abu-abu, yang ada warna-warna cerah. Pemilik mal mengecat langit-langit kubahnya sewarna langit biru yang cerah. Membuat pengunjung merasa nyaman di dalamnya, padahal di luar hujan deras turun dari langit. Petugas layanan pelanggan (customer service) dilatih untuk selalu senyum, meskipun mungkin sedang galau mengingat utang yang jatuh tempo.

Suasana cerah itu pula yang sebaiknya kita hadirkan di lingkungan kita saat bulan Ramadhan. Bukan wajah muram karena lapar dan haus, melainkan wajah ceria karena tengah berusaha melakukan perintah Allah SWT. Suasana cerah ini tentu bukan suasana tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan adegan melawak di teve yang mengiringi sahur. Bukan juga seringai puas karena berhasil membakar warung yang tetap melayani orang (yang tidak puasa). Suasana cerah yang dimaksud berhubungan dengan perasaan ceria, perasaan damai, karena ada dalam dimensi ruhani, karena kita diguyur dengan kilatan-kilatan spiritual yang menerpa kita di saat-saat lebih serius menjalin cinta dengan Sang Cinta.

Beda dengan puasa sunah, yang “benar-benar” bersifat pribadi, puasa Ramadhan yang dilakukan ramai-ramai jadi memiliki aspek sosial. Kita sangat bisa tidak mempertontonkan puasa sunah, tetapi di bulan Ramadhan hingar bingar buka bersama, tarawih, sahur, siaran televisi, secara demonstratif mempertontonkan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah puasa yang (ingin) kita lakukan. Tak ada seorang pun akan menegur kita karena tidak menjalankan puasa sunah. Dengan mudah kita bisa melakukan puasa sunah karena memang niat kita mau berpuasa. Tidak perlu ada rasa bangga karena menjalankannya, dan tidak ada orang yang akan menegur ketika kita tidak melakukannya karena memang sunah. Sebaliknya di bulan Ramadhan kita merasa malu karena tidak berpuasa. Celakanya, rasa malu dilihat orang jauh lebih mudah timbul ketimbang rasa malu “dilihat” Allah Yang Maha Melihat. Di bulan ini kita mudah mencemooh (terang-terangan atau sembunyi-sembunyi) melihat orang yang tidak berpuasa, seakan-akan kita lebih dari mereka.

Meski demikian, bagaimanapun juga ibadah puasa adalah ibadah persona. Orang lain hanya melihat apa yang nampak, dan tidak akan mampu mengukur niat kita yang ada dalam hati. Orang lain tidak akan bisa menilai betapa serius atau sekedar ritual belaka apa yang sedang kita lakukan. Orang lain juga tidak akan tahu seandainya saja kita sembunyi-sembunyi melanggar aturan puasa.

Hanya Allah ta’ala yang melihat apa yang ada dalam hati kita, apa yang kita pikirkan, apa pula yang kita lakukan… Karenanya menjadi mudah dipahami apabila dikatakan hanya Allah ta’ala yang akan membalas puasa kita. Walaupun sebenar-benarnya, sepanjang menyangkut kewajiban tidaklah layak kita bicara tentang balasan.

 

Selamat datang Ramadhan..

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *