Kuliner

Oleh: Adhy Trisnanto

Orang bijak bilang, nilailah seseorang dari apa yang dimakan. Benar juga kalau dipikir-pikir, mana ada orang yang cekak koceknya makan makanan enak di resto internasional yang nyaman dan serba terlayani. Tapi yang dimaksud mungkin tidak cuma itu, mungkin si bijak mau mengatakan (juga) bahwa cara seseorang makan juga menunjukkan siapa dia. Makan lamban sering ditafsir orangnya pun lamban bekerja. Makan tanpa meninggalkan sebutir nasi di piring menjadi tanda orang yang rapi hidupnya. Memenuhi piring dengan makanan setinggi gunung menunjukkan orang yang serakah. Lebih buruk lagi ketika ternyata tidak semuanya termakan. Padahal ada anjuran berhentilah makan sebelum kenyang. Yang dianjurkan bukan sebelum kekenyangan lho!

Orang bijak lain bilang, semua penyakit berasal dari mulut. Benar juga kalau dipikir-pikir, kecuali penyakit kulit karena jamur. Makan emping melinjo menaikkan asam urat. Makan pepaya atau cabe kebanyakan, membuat perut jadi mules. Makan karbohidrat berlebihan jadi menaikkan berat badan.  Makan kebanyakan dan asal membuat kita jadi berpotensi kena obesitas. Dan penderita obesitas benar-benar menderita, susah duduk, susah jalan, apalagi berlari. Menonton di televisi tentang proses penyembuhan penderita obesitas jadi bisa membayangkan betapa dibutuhkan kesabaran yang tinggi untuk bisa sembuh. Ketika kita “terpaksa”  ke dokter karena merasakan penderitaan tertentu, dia sangat sering menyuruh pasien menjalankan diet ini itu. Buat kita itu adalah penderitaan versi lain yang panjang: hilangnya kesempatan kita makan enak.

Akhir-akhir ini masalah makan sering jadi topik. Topik pembicaraan di antara sekumpulan orang, sampai topik pembicaraan di media. Resto baru yang baru muncul bisa jadi bahan ngobrol berpanjang-panjang. Foto suasananya bisa tersebar di media sosial, berlomba-lomba diunggah orang supaya terkesan trendy banget. Stasiun televisi tak bosan-bosannya menyiarkan aksi para chef kondang. Juga menginformasikan kekayaan kuliner dari setiap pelosok Nusantara yang sangat beragam. Pabrik kecap membuat activation lomba masak resep tradisional. Mungkin trend begini menunjukkan makin makmurnya masyarakat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *