Kompetisi vs Kooperasi

Oleh: Adhy Trisnanto

Kita kerap bertanya kepada seorang anak, ranking berapa dia di kelasnya. Anak yang masuk ranking dengan berseri akan menjawab “ranking  3”. Sebaliknya anak yang tidak masuk ranking akan tersipu malu nyaris tak terdengar jawabnya.

Pemeringkatan mendorong suasana kompetisi di sekolah. Sebagian anak akan berusaha mati-matian mendapatkan nilai terbaik, karena bermacam alasan: tidak mau mendapat malu di depan teman-temannya, karena takut dimarahi orangtua, atau karena memang suka belajar. Mereka lalu akan  rajin belajar, pekerjaan rumah selalu dikerjakan sendiri, buku pelajaran selalu dekat dengannya. Sebagian yang lain berusaha mendapat nilai baik lewat jalan pintas: dari menyontek sampai orangtuanya “membeli” nilai. Masalah ranking bukan lagi jadi masalah si anak, tetapi juga masalah orangtua. Bukan saja si anak yang merasakan ranking sebagai segala-galanya, bahkan orangtuapun merasa dunia kiamat kalau anaknya tidak masuk ranking. Tentu saja cara kompetisi demikian akan terbawa sampai si anak menjadi dewasa, jadi bagian karakternya dalam kehidupan nyata. Tumbuh dalam suasana kompetisi sepertinya akan cenderung membentuk sikap egois, mau menang sendiri, tidak pernah bisa menerima kekalahan. Lebih celaka lagi ketika kemenangan didapat dengan cara-cara tidak wajar. Menghalalkan segala cara. Kalau di sekolah sudah begitu, hampir pasti dalam kehidupan nyata juga akan demikian.

Padahal ada sistem pendidikan yang tidak mengenal ranking. Anak didik bahkan sejak dini diajarkan tentang kerjasama team. Mengerjakan pe-er secara berkelompok, memecahkan soal dengan diskusi. Mereka didorong untuk berani mengemukakan pendapat, berani beradu argumentasi secara sehat dan sportif. Mereka dilatih untuk mencapai hasil dengan kerjasama team. Mau menerima pendapat yang memang ternyata lebih baik, sebaliknya juga punya kemampuan untuk memperjoangkan pendapat sendiri yang disampaikan secara sistematik. Sistem demikian akan membentuk orang yang mampu menghargai orang lain, dan melatih sikap senantiasa siap berbagi, sikap yang demokratis. Jangan heran, menerapkan cara demikian di tengah kultur masyarakat yang terlanjur terbentuk saling bersaing tidaklah selalu lancar. Tidak selalu mudah dalam mendorong mahasiswa untuk mengemukakan pendapat. Tidak selalu berhasil membuat setiap orang berperan aktif dalam diskusi atau tugas kelompok. Tidak selalu ada sikap jujur ketika mahasiswa menjawab soal ujian yang open book sekalipun.

Kita memang perlu lebih belajar tentang kooperatif. Sudah saatnya.

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *