Kecepatan Berita

Oleh: AM. Adhy Trisnanto

Perkembangan media sosial ternyata memberi pengaruh juga kepada etika pemberitaan. Dulu media tradisional selalu menyembunyikan nama orang yang belum jelas kesalahannya. Sekarang, tidak lagi. Kenapa begitu? Alasan yang pernah saya dengar dari orang media cetak, “Lah, nama itu lewat media sosial sudah beredar kemana-mana, jadi kalau kita tidak menyebutkan rasanya kita ketinggalan berita..”

Ternyata norma etika itu bisa berkembang seiring jaman.

Pengaruh media sosial memang sangat dahsyat. Teknologi komunikasi ini bisa menjadikan semua orang jadi media. Saya pengen menyebar berita bohong tentang apa saja dan tentang siapa saja (dengan sepenuh kesadaran maupun tanpa sadar), saya tinggal berkicau lewat media sosial. Makin kontroversial suatu berita, makin cepat berita itu merambah kemana-mana. Kecepatan berita lewat media sosial juga “tak terkalahkan.” Saya menyaksikan sesuatu, saya langsung just in time bisa mewartakannya. Media sosial tidak mengenal sekat, dan tidak ada filter. Berita saya bisa mendapat kepercayaan sejumlah orang, yang kemudian ikut meramaikan kicauan, dan sekaligus bisa tidak dipercaya sejumlah orang pula, yang sama juga akan ikut meramaikan kicauan. Dalam situasi demikian, sangatlah penting bagi seseorang untuk memiliki kemampuan menyaring berita. Menelusuri siapa penyebar berita, apa latar belakangnya, bagaimana konten berita dengan topik yang sama di tempat lain. Jadi perlu ada cek dan ricek, supaya kita tidak mudah terjebak dalam kekeliruan.

Jangan salah, hingar bingar suatu berita di media sosial tidak hanya ada pada bidang politik. Komunikasi pemasaran dewasa ini juga mendapatkan imbasnya. Sekarang praktisi komunikasi pemasaran perlu memperhitungkan proses khalayak dalam mencari informasi (search) mengenai suatu brand atau produk lewat media sosial, sebelum memutuskan membeli. Dan kebiasaan khalayak masa kini menyebar komentar (share) tentang sesuatu yang mereka pakai. Komentar bisa positif bisa pula negatif. Beberapa pemilik brand sudah mulai menggunakan media sosial untuk merekayasa digital word of mouth, getok tular pakai piranti modern. Sama halnya dengan menyikapi simpang-siur kicauan orang tentang berita-berita politik, demikian pula halnya sikap kritis perlu ada saat menyimak berita-berita tentang suatu brand atau produk. Jangan salah, selain pemilik brand yang memang berkepentingan merekayasa Digital WOM, hampir pasti pesaingpun bisa menggunakan Digital WOM untuk memerangi lawan-lawannya.

Dunia memang berubah, dan tak akan pernah berhenti berubah. Tapi sejak dulu tidak pernah ada kecap nomor 2. Jadi hati-hatilah menyikapi berita. Yang cepat belum tentu tepat. Maka proses searching dan sharing perlu mendapat perhatian para praktisi komunikasi saat ini. Dan pada saat yang sama khalayak pun patut bersikap kritis ketika ada dalam proses tersebut.

 

 

[ttn]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *