Jauh Dekat

Oleh: Adhy Trisnanto

Kemarin saya bertemu seorang teman, orang iklan, orang kreatif, yang sedang menikmati cuti enam bulan setelah sekian puluh tahun bekerja. Bayangkan, biasanya sehari-hari dikejar deadline, kemudian cuti, bebas dari tekanan pekerjaan. Mungkin rasanya seperti terhempas ke bawah dari tempat tinggi, atau sebaliknya terlontar ke atas dari tempat rendah. Tapi yang dia lakukan tidak memungkinkannya mengalami hal demikian. Dia memanfaatkan waktunya tidak untuk berwisata ke luar negeri, melainkan untuk mendatangi kota-kota kecil di pelosok negeri. Dengan sengaja hidup berbaur dengan orang-orang yang termarjinalkan, seperti tukang becak misalnya. Dengan mata berbinar dia kisahkan pengalaman-pengalamannya, nyaris semuanya bisa disebut pengalaman spiritual, yang memperkaya kemanusiaan dan imannya.

Sepotong ceritanya tentang khotbah Jumat di masjid Kauman Semarang. Demikian antusiasnya dia menyimak khotbah, sampai-sampai mengeluarkan buku kecil dan bolpen untuk mencatat. Di masjid itu pengkhotbah bertutur tentang nilai-nilai kehidupan dengan menuturkan ulang kisah tentang Rasulullah. Salah satu bagiannya tentang pemaknaan jauh, dan dekat. Yang jauh itu bukan matahari, dan bintang, atau juga Afrika, melainkan masa lalu. Yang dekat itu bukan istri, suami, anak, melainkan kematian… Khotbah begini di kota besar justru jarang terdengar. Di kota besar kita lebih sering mendengar khotbah tentang korupsi, atau kelakuan liar orang-orang yang dianggap public figure.

Masa lalu dikatakan jauh, karena ketika kita merasa punya pengalaman dahsyat (positif maupun negatif), ingin mengulang atau menghapus pengalaman itu, dengan ikhtiar seperti apapun tidak akan mungkin bisa kita lakukan. Masa lalu tetap adalah masa lalu, tak akan pernah berulang kembali. Jangankan yang berjarak bulanan, apalagi tahunan, yang baru saja terjadi sejam yang lalu belum tentu bisa diulang. Sedangkan kematian adalah peristiwa yang dekat, karena bisa terjadi dalam hitungan detik, bahkan detak, tanpa terduga sama sekali. Tetangga yang semalam masih ngobrol ramai di pos ronda, pamit karena ngantuk, tahu-tahu subuh sudah kaku jadi mayat. Diguncang kuat-kuat di saat subuh, tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan…

Meski demikian, bisa saja ada situasi lain yang menganggap kematian adalah sesuatu yang masih jauh, ketika seorang terbaring sakit, dan orang-orang yang disayanginya hanya sesekali datang menengok. Menit-demi-menit dilalui dalam kesunyian dan penderitaan, dia berharap kematian datang segera, tapi tidak juga datang. Dia merasa demikian lama harus menunggu saat itu. Justru ketika dia bosan menunggu, baru ajal tiba. Sebaliknya masa lalu bisa juga jadi dekat, karena kita pandai memelihara kenangan-kenangan indah, atau menyesali perbuatan buruk dan memaafkan diri sendiri…

Teman saya, Jaya Suprana sering berujar, hidup ini adalah menanti kematian. Mungkin dia benar, karena justru hidup ini ada untuk mencari bekal bagi kematian. Orang Jawa bilang, hidup di dunia ini sekedar mampir ngombe, mampir untuk minum. Cuma sesaat, tapi ada kehidupan yang amat sangat jauh lebih panjang dari sesaat itu.

Maka apa gunanya berpestapora di saat minum, tetapi sesudah itu merana panjang. Seandainya saja kita masing-masing setiap saat berpikir begitu. Tapi agar kita punya kesadaran demikian bukanlah hal mudah, di tengah-tengah dunia yang makin hari makin tampak gemerlap dengan ilani-nilai yang bergeser dan terbalik-balik. Cara teman saya tadi, memanfaatkan liburan dengan masuk dalam kehidupan nyata orang-orang termarjinalkan, mungkin salah satu cara terbaik untuk mendapatkan penyegaran nilai-nilai spiritual kita.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *