Hujan Lagi

Oleh: Adhy Trisnanto

Baru bebeberapa bulan suhu ruangan kantor terasa hangat. Tetapi beberapa hari terakhir ini kaca-kaca jendela pada berembun, suhu terasa dingin menusuk tulang. Orang-orang di kantor mengenakan jaket berusaha mengusir dingin. Dari jendela bisa dilihat hujan turun makin sering dan makin lama, cuaca mendung gelap. Jalanan basah, dan terbayang perjalanan pulang nanti pasti banyak kubangan air coklat di jalan. Padahal kemarin panas siang hari terasa menyengat. Bahkan malam pun terasa gerah.

Pergantian panas/hangat ke dingin, menyadarkan kita bahwa suka ataupun tidak, sang waktu berjalan terus tanpa kompromi. Merambat dari detik ke detik berikutnya, pagi jadi siang, siang jadi sore, sore jadi malam. Demikian seterusnya sampai tahu-tahu satu pekan lewat, satu bulan lewat, dan sebentar lagi satu tahun lewat. Kalender dan agenda yang selama setahun kita coret-coret, harus dibuang diganti yang baru. Catatan yang saat dibuat terasa sangat penting, menjadi tulisan yang tidak lagi punya makna. Waktu adalah sesuatu yang sama sekali diluar kendali kita, tetapi demikian besar pengaruhnya kepada setiap diri kita. Siapa bisa minta tambahan waktu barang sebentar karena kita belum selesai menjawab soal ujian? Yang lebih dahsyat lagi, siapa yang bisa minta tambahan waktu barang sebentar disaat maut datang memutus nyawa? Mungkin hanya orang yang tidak waras, atau orang yang sepenuhnya berserah diri kepada Allah SWT yang tidak lagi peduli kepada waktu.

Dunia ini ada karena ada perubahan, perubahan yang seketika seperti bencana tsunami atau gunung yang meletus, ataupun perubahan yang perlahan sehingga nyaris tidak kita sadari seperti rotasi bumi. Perubahan itu artinya tadi beda dengan sekarang, dan bisa dipastikan nanti juga akan beda lagi. Perbedaan itu bisa membaik, tapi bisa juga memburuk. Kalau perubahan itu alamiah, tidak mungkin kita tolak. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan ikhtiar pencegahan yang mungkin saja bisa memperlambat proses perubahan. Di musim hujan begini, kalau tidak mau pilek ya jangan berhujan-hujan. Orang bilang, sedialah payung sebelum hujan. Kalau sudah terlanjur kehujanan ya makanlah buah yang banyak kandungan vitamin C-nya. Tapi banyak perubahan yang tidak seperti itu. Anak yang tidak bersekolah ya tidak akan (dianggap) pintar. Jadi memberi pengetahuan kepada anak akan mengubah anak tidak pintar menjadi pintar. Bisnis yang gagal jangan cepat-cepat dianggap karena memang kita bernasib malang, bisa saja karena cara yang kita lakukan tidak tepat.

Kalau begitu kan berarti perubahan itu bisa direkayasa. Bukankah kita sudah mengalami di saat kekeringan dibuat hujan buatan? Kita juga menjadi saksi sejarah manusia bertualang ke angkasa luar, padahal sebelumnya jauhnya bulan dan bintang tidak mampu kita bayangkan. Malah kita sendiri bisa berbicara kepada orang yang jauh dari kita kapan saja kita mau. Kita bisa menonton peristiwa yang baru terjadi di belahan lain dunia ini. Semuanya karena hasil olah akal manusia. Temuan satu memicu temuan yang lain, demikian seterusnya, sehingga perubahan terjadi semakin cepat. Alangkah bahagianya kita seandainya kita tidak sekedar jadi penonton, tetapi juga menjadi pelaku perubahan. Tidak perlu berpikir terlalu muluk untuk menciptakan mesin waktu misalnya. Lebih realistik kalau kita berpikir dan mencoba merubah yang kurang baik di lingkungan sekitar kita menjadi lebih baik. Karena ternyata itu mungkin…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *