Gurunya Guru

Oleh: Adhy Trisnanto

Tidak semua acara televisi tidak mendidik. Acara-acara televisi yang membahas pengetahuan asyik juga ditonton. Banyak hal bisa menambah pengetahuan kita tentang alam semesta ini.  Dan ujung-ujungnya kesadaran kita makin meningkat betapa rumit dan hebat semua ciptaan Allah SWT. Apalagi program-program itu dibuat dengan cermat, dan disampaikan dengan apik,  sehingga relatif mudah dipahami. Meskipun memang tidak semudah nonton gosip atau sinetron atau stand up comedy. Tapi kan manfaatnya jauh lebih besar.

Satu di antaranya sempat saya tonton beberapa waktu yang lalu. Program dibuka dengan cerita tentang upacara adat suku Masai di Afrika. Sebuah ritual yang menandai bahwa seorang laki-laki sudah dewasa. Orang muda ini diberi pakaian semacam sarung yang juga sering kita pakai. Sarung ini merupakan pakaian tradisional mereka. Wajahnya dicoreng-coreng dengan warna-warna merah karat. Kemudian si orang muda harus minum darah dari sebuah cawan. Darah yang teroksidasi inilah yang menghasilkan pewarna berwarna karat.

Segmen tadi dilanjutkan dengan telaah tentang oksigen dan darah. Darah mengangkut oksigen dari jantung, mendistribusikan oksigen itu ke semua bagian tubuh kita, agar bagian-bagian tubuh itu mampu berfungsi baik. Darah yang mengandung oksigen berwarna merah cerah. Kemudian darah itu akan balik lagi ke jantung melalui pembuluh balik, membawa sampah-sampah tubuh, darah “kotor” yang minim oksigen ini kehilangan cerahnya. Di jantung darah “kotor” ini dibersihkan. Sedangkan oksigen melalui pernapasan kita hirup dari udara, masuk ke paru-paru. Sama halnya dengan proses recycling jantung, demikian pula udara yang masuk ke dalam tubuh kita mengalami recycling. Oksigen yang masuk, CO2 yang keluar. Recycling adalah proses alam yang luar biasa, yang dibutuhkan untuk melakukan peremajaan, atau pembaharuan terus-menerus. Tanpa proses ini dunia dan seisinya akan makin cepat menua.

Selain pelajaran tentang recycling alami, cerita tentang sinergi darah dan oksigen mengajarkan kita tentang sinergi. Nah, alam yang demikian luar biasa saja melakukan recycling dan sinergi, bagaimana pula kita dalam segala keterbatasan kita? Sungguh, semesta alam adalah gurunya guru, untuk segala hal.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *