Gula – Kelapa

Oleh: Adhy Trisnanto

Kekayaan ragam kudapan Nusantara mendapat banyak pengaruh dari kehadiran gula aren/gula jawa dan kelapa. Lihat saja: kolak, yang menjadi bagian dari takjil wajib di bulan Ramadhan. Kolak itu enak karena kuahnya campuran gula aren dan santan kelapa. Bayangkan juga kelezatan klepon, gula bersalut tepung yang diperkaya pewarna lalu dibentuk bola-bola kecil dan ditaburi  kelapa parut. Ketan diberi cairan gula dan parutan kelapa. Kue putu berisi gula dan digurihkan oleh kelapa parut. Gula itu menjadi sumber energi, sementara kelapa adalah pencipta rasa gurih.

Demikian besar pengaruh gula dan kelapa dalam kehidupan orang Jawa, sampai-sampai menginspirasi petinggi Majapahit ketika menciptakan benderanya. Bendera yang dibawa kemana-mana ketika kerajaan ini meluaskan wilayahnya. Kibaran bendera gula-kelapa ini demikian berwibawa sehingga mampu menggentarkan pasukan kerajaan yang ditaklukkan. Sebaliknya bagi pasukan Majapahit bendera gula-kelapa mampu mengobarkan semangat pertempuran. Seakan bendera gula-kelapa menyangkut mati-hidup mereka, sebagaimana pengaruh gula dan kelapa terhadap apa yang mereka makan.

Tidak jelas, ketika para founding fathers menetapkan merah-putih sebagai bendera republik ini apakah ada pengaruh gula-kelapanya Majapahit. Besar kemungkinan kejayaan Majapahit memang merupakan salah satu sumber inspirasi mereka. Maka peristiwa heroik perobekan kain biru bendera Belanda yang berkibar di Hotel Yamato (atau Hotel Oranye) Surabaya sehingga menjadi tinggal merah dan putih bukanlah awal keberadaan bendera merah-putih kita. Perobekan bendera Belanda itu merupakan respon pada pemuda Surabaya terhadap maklumat Pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 yang menginstruksikan pengibaran bendera merah-putih di seluruh wilayah Indonesia mulai 1 September 1945.

Merah-putih tidak lagi dihubungkan dengan gula dan kelapa, melainkan dengan berani dan suci. Merah putih tidak lagi dimaknai menurut asal muasalnya, melainkan dengan mengangkat karakter warnanya. Walaupun terjadi pergeseran pemaknaan simbolisasi, tapi fungsinya sebagai bendera tetap sama. Merah putih itulah yang mampu membuat kita merinding ketika dikibarkan dalam upacara bendera apalagi diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ketika atlet Indonesia memenangkan pertandingan dan bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dikumandangkan mampu membuat seisi stadion bergetar. Merah putih yang berkibar gagah dikibas-kibas angin di puncak tiang mudah-mudahan mampu menggugah kesadaran berbangsa kita. Padahal merah putih sesungguhnya hanyalah bagian dari simbol-simbol negara. Maka menjadi sangat penting untuk memahami segala sesuatu yang disimbolkan, tidak berhenti pada mencintai simbolnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *