Gemuk Kurus

 

Oleh: Adhy Trisnanto

Orang yang konsumtif selalu jadi incaran para produsen. Bahkan para marketer menilai belanja seseorang lebih penting ketimbang pendapatannya. “Apa gunanya kaya tapi pelit,” begitu kira-kira mereka berpikir.

Maka wajar saja negara-negara berkembang yang mulai menanggalkan ketertinggalannya akan diserbu brand-brand global. Dan brand global ini tidak main-main. Dia tidak puas sekedar bermain di kota-kota besar, dia merangsek sampai ke desa-desa. Jadilah air dalam kendi dianggap primitif, dan bau badan harus dimusnahkan, dan tidak ada lagi tempat buat ketombe. Jajan pasar ditaruh di tempat “terhormat” menjadi kuliner klasik yang hanya beredar di momen-momen khusus. Ibu-ibu dikomporin meninggalkan bumbu-bumbu semacam bawang-kunir- ketumbar-jinten-jahe, tidak praktis alasannya, karena sekarang sudah ada bumbu instan yang kita tidak tahu (dan tidak mau tahu) dibuat dari apa. Anak-anak dibujuk makan biskuit dan minum susu instan tertentu supaya bisa jadi super hero.

Kadang-kadang memang muncul berita tentang kandungan bahan yang berbahaya dalam produk tertentu. Tadinya berita semacam ini mendapat perhatian besar, tapi ketika berita sejenis berulang-ulang muncul, orang makin menganggap hal begitu hal biasa saja. Tadinya mengelus dada sambil beristighfar, lama-lama sekedar berharap mudah-mudahan tidak akan mengalami kemalangan karena mengonsumsi sesuatu. Tahu bakso berformalin sempat bikin geger, tapi setelah itu, entah sudah terbasmi atau masih beredar bebas, berita pun surut tak berbekas, layaknya air bah yang datang dan pergi.

Padahal di India misalnya, terjadi fenomena baru dimana sejumlah anak-anak kelas menengah mengalami obesitas disebabkan oleh pola makan mereka. Resto cepat saji jaringan global merambah kemana-mana, dan dipenuhi pengunjung berusia muda, yang merasa tidak cukup makan burger cuma satu. Mereka ini bagian dari kelas menengah yang menggelembung dengan cepat. Berat badannya naik drastis jadi tiga digit. Baju dan celananya ukuran tripple X yang susah dicari di toko biasa. Lari jadi hal yang mustahil buat mereka. Jangankan lari, jalannya pun oleng tidak lagi bisa lurus, ibarat kapal kelebihan muatan di tengah badai. Hanya tindakan medis yang bisa menyelamatkan mereka dari macam-macam penyakit dan penderitaan. Mungkin saja kita di Indonesia juga mengalami hal demikian, tapi luput dari pemberitaan. Obesitas tidak dianggap bencana, karena mungkin kurang menyadari dampak buruknya. Atau malah tubuh kurus dianggap memalukan, jadi gemuk lebih kelihatan gagah dan makmur. Yang disorot media lebih banyak kasus-kasus obesitas yang menimpa orang-orang kalangan sederhana.

Sebaliknya, berita meninggalnya Ir. Sutami, yang pernah menjadi Menteri Pekerjaan Umum, antara lain menyatakan bahwa almarhum meninggal karena gizi buruk. Pak Sutami memang kurus, dan tipe pekerja keras. Tidaklah mungkin beliau – yang jadi menteri – tidak mampu makan makanan sehat. Tapi itulah yang terjadi. Besar kemungkinan beliau tidak punya pola makan yang teratur dan tidak terlalu memilih-milih makanan yang disantap.

Jadi ternyata gemuk dan kurus tidak selalu karena ada atau tidak ada uang. Gemuk dan kurus adalah akibat dari pola makan: kandungan gizi, takaran, frekuensi, keteraturan. Jadi, cermatlah memilih makanan bergizi, jangan sekedar mengejar yang lagi ngetrend atau yang terasa enak. Dan berhentilah makan sebelum kenyang. Kegemukan atau kekurusan bukan pengalaman yang mengenakkan. Percayalah…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *