Bening

Oleh: AM. Adhy Trisnanto

Air minum sering kita sebut air putih ketika tidak diberi imbuhan apapun. Ketika diberi sesendok-dua sirup, jadilah berwarna. Tidak lagi kita sebut air putih, melainkan sirup.  Kita namakan air putih karena tidak berwarna. Dan air yang layak minum biasanya juga tidak berbau. Air bau biasanya tercemar.

Sesuatu yang tidak tercemar biasa kita sebut putih. Baju putih, merpati putih, mega putih, akung putih, bangau putih. Dalam dunia persilatan juga dikenal istilah aliran putih, kumpulan pendekar budiman yang dikisahkan selalu membela yang tertindas, memberantas kejahatan. Berbalikan dengan aliran hitam, yang isinya pesilat-pesilat berperingai buruk, berwajah sangar, semena-mena. Hitam sering kita hubungkan dengan hal-hal negatif: kegelapan, gagak hitam, ilmu hitam…

Meskipun tidak otomatis yang hitam selalu berkonotasi buruk. Rambut hitam ada saatnya menjadi kebanggaan orang. Semut hitam sering disebut sebagai contoh keteladanan kerja keras dan tertib. Satria baja hitam, dipuja karena membela yang lemah. Sedan hitam disukai para eksekutif papan atas. Kopi hitam dikatakan lambang pria sejati. Bahkan ada aliran spiritual yang pada tahap awal proses cenderung mengenakan busana putih. Tapi justru pada tahap lebih lanjut mereka mengenakan busana hitam. Mungkin di awal ada euforia karena (merasa) mendapat pencerahan. Tetapi setelah mencoba mendalami ternyata makin dalam makin paham betapa kotornya diri. Seperti seorang suci yang justru merasa dirinya kotor sehingga sholatnya terlambat hanya untuk berlama-lama mengambil wudhu…

Tapi, bukankah paras putih kita sebut pucat, tanda kurang sehat? Ternyata ketika kita bicara dengan warna, selalu bisa berhubungan dengan baik tapi juga buruk.

Balik lagi ke air, topik awal kita. Rada aneh memang: kalau diamati sebenarnya air putih tidak berwarna putih, melainkan tanpa warna. Susu memang putih, tetapi yang disebut air putih itu bening. Putih sebenarnya tetap saja salah satu warna, malah kalau semua warna kita oplos jadilah putih. Beninglah yang tanpa warna. Bening jauh lebih dahsyat ketimbang putih. Keberadaannya tidak membutuhkan dukungan warna, tetapi keberadaannya dirasakan benar. Lihat saja kaca bening, yang menjadikan pandangan kita mampu menerobos apa-apa yang ada di balik kaca. Dan udara bening yang sepanjang hayat kita hirup. Dia tidak nampak seperti wedus gembel turun dari Gunung Merapi yang lagi bergolak. Dia tidak berwarna dan tidak berbau. Tetapi kandungan oksigennya dialirkan darah ke seluruh tubuh sehingga bagian-bagian tubuh kita bisa berfungsi. Demikian pula air bening. Tanpa campuran apapun air bening mampu mengalahkan rasa dahaga kita, dan malah lebih sehat.

Air bening juga mampu menjernihkan. Segelas air keruh yang kita tuangi air bening terus menerus akhirnya kekeruhannya akan berkurang.

Itulah yang mau kita lakukan dalam bulan Ramadhan ini. Mengusir kekeruhan diri kita dengan menggelontorkan air bening sepanjang bulan. Agar di penghujung bulan kita akan kembali fitri. Kembali fitri itu menyegarkan, mirip sensasi kesegaran yang kita rasakan setiap kali habis mandi. Makin kotor kita makin segar rasanya. Air bening itu bukan rasa lapar dan dahaga, melainkan segala sesuatu yang ilahiyah. Air bening itu mengisyaratkan lepasnya dimensi warna yang sering menjebak kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *