Beda

Oleh: M. Adhy Trisnanto

Semua orang yang dianugerahi penglihatan normal pasti tahu ada warna merah yang beda dengan warna hijau. Dan dia juga tahu, warna-warna itu bukan saja warna buatan manusia yang nempel di spidol atau pensil warna. Sebelum kenal spidol dan pensil warna, dia sudah kenal beraneka warna yang ada di alam sekitarnya. Jadi, alangkah janggalnya seandainya di sekolah gurunya mengajarkan bahwa warna itu ada dua belas macam. Padahal seingat dia jumlah warna itu tak terbatas, sampai-sampai ada yang tidak diberi nama. Paling orang cuma mengatakan, “Oo itu kuning kehitam-hitaman.” Alam semesta senantiasa memberi dengan berlimpah, sebatas kita tidak mampu mengingatnya. Dan semua baik adanya. Kita saja yang karena keterbatasan pengalaman, sering heran, dan sulit menerima sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Kita merasa menemukan keanehan, sesuatu yang lain dari yang lazim.

Keterbatasan pengalaman kita, menjadikan kita merasa heran ketika melihat seorang asing yang berkulit hitam pekat, berbibir merah gelap, dengan tinggi badan yang lebih dari rata-rata tinggi badan orang yang biasanya kita temui. Lebih heran lagi, orang tadi berbicara dalam bahasa yang sama sekali tidak kita kenal. Mekanisme pertahanan kita sering otomatis bekerja dengan memasang prasangka-prasangka, “Wah, makhluk ini datang dari pelosok dunia yang sama gelapnya, pasti makanan pokoknya bukan nasi, mulutnya bau, badannya bau, kerjanya berkelahi melulu, suka bersikap kasar, lihat saja, ngomongnya tidak bisa pelan.”

Astagfirullah, padahal yang kenal si hitam tadi, berkata sebaliknya, “Si hitam sangat lembut, jauh lebih lembut dari mertua yang jengkel melihat menantunya tak kunjung mendapat pekerjaan tetap.”

Kita sering tidak mampu menerima perbedaan. Kita sering merasa zona aman kita terusik karena kehadiran sesuatu yang beda. Ketidakmampuan itu seringkali bisa berkurang ketika kita punya kesempatan bepergian kemana-mana, ibarat katak keluar dari tempurungnya. Perjalanan itu membuahkan pengalaman, bahwa di luar dunia kita, ada kehidupan yang beda dengan yang biasanya kita jalani. Alamnya, manusianya, sejarahnya, kebudayaannya, norma-norma moral dan etikanya. Dan kalau kita memiliki keterbukaan yang cukup, mencoba berpikir positif, ternyata kita bisa menikmati perbedaan itu.

Apalagi kalau keterbukaan itu berangkat dari pemahaman bahwa Allah SWT yang menciptakan seisi alam semesta ini, tidak ada makhluk satupun yang bisa ada yang keberadaannya di luar ijin-Nya. Harmoni yang ada di alam semesta ini merupakan keseimbangan, keserasian antara unsur satu dengan unsur lain yang berbeda. Alangkah bosannya seandainya di dunia ini hanya ada bunga mawar berwarna merah. Meskipun karena hanya ada satu macam warna merah, kita lalu tidak bisa mengatakan apakah itu cantik atau buruk, karena tidak ada pembanding yang bisa dipakai.

Keberagaman memungkinkan kita merangkai keserasian antara yang satu dengan yang lain.  Sekumpulan anak berandalan di satu kelompok tidak memberi kemungkinan anak-anak itu menjadi santun karena mereka tidak punya contoh tentang kesantunan. Keberagaman menjadikan kita bisa mengukur kelebihan dan kekurangan kita karena ada pembanding-pembanding di sekeliling kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *