Baru

Oleh: M. Adhy Trisnanto

Jalan-jalan ke pasar loak bisa jadi pengalaman menarik. Ternyata demikian banyak ragam benda bekas yang masih punya nilai jual. Bahwa buku bekas bertumpuk-tumpuk diperagakan dan ternyata dikerubungi orang, rasanya tidak aneh. Memang tulisan kan tak pernah usang. Tetapi bahwa kloset bekas ternyata bisa disajikan cukup menarik, rasanya rada aneh juga. Kesediaan dan ketekunan orang menggosok benda yang bisa menjijikan karena karat air (dan kotoran-kotoran lain) ternyata memberi nilai jual. Lebih menarik lagi jalan-jalan ke pasar barang antik. Orang yang tidak gemar barang antik akan menggeleng-geleng tak habis pikir, melihat yang disebut antik itu ternyata bisa mulai dari gagang pintu, guci retak, setrika jago, kunci gembok, bahkan kliping iklan! Kalau saja kita pernah berpindah-pindah rumah, akan terbit penyesalan: kenapa benda yang waktu itu rasanya tidak punya nilai dan kita buang begitu saja ternyata ada di pasar barang antik dan bisa jadi duit.

Kita memang terbiasa lebih menghargai barang baru ketimbang yang lama. Yang baru senantiasa terbayang indah, menarik, wangi; sementara yang lama terbayang kusam, lusuh, cacat, luntur. Padahal pada masanya barang lama paling tidak pernah memberi jasa kepada kita. Boneka-boneka peneman tidur di saat kecil, buku-buku dongeng hadiah ulang tahun dari orang tua, semuanya itu seakan menemani perjalanan hidup kita dan ikut berperan menjadikan kita seperti hari ini. Ada yang menarik disini: berperan pada masanya…

Kalau begitu, apalah gunanya menyoal lama dan baru? Bukankah yang lebih penting perannya? Apa manfaatnya baru kalau tidak punya peran, tidak memberi kontribusi apapun dalam hidup? Dan apa salahnya lama kalau ternyata masih memberi manfaat, punya nilai tambah? Itulah gunanya memajang kepala rusa didinding, atau menaruh jasad harimau yang diawetkan di ruang tamu. Ketika masih hidup rusa dan apalagi harimau bukan sesuatu yang layak didekati karena merepotkan, bahkan menjadi ancaman. Itulah pula gunanya barang antik: memberi bukti peradaban masa lalu. Dan hanya orang yang punya pendidikan yang akan mampu menghargai barang antik. Karena itu konon banyak orang berduit yang menghias rumahnya dengan barang (yang dianggap) antik. Mungkin saja bukan karena menghargai bukti peradaban ini, melainkan agar dianggap orang berpendidikan, berselera tinggi, dan mampu membeli…

Tetapi saat ini kita mau tidak mau ada di tahun yang baru. Kalender kita baru, belum ada coretan, masih kaku. Buku agenda kerja baru juga menunggu diisi. Pola yang dibuat dan disepakati banyak orang membuat tahun yang baru ini jadi penting. Semua pikiran dicurahkan agar tahun baru ini lebih baik ketimbang tahun lalu. Tetapi bukankah sebenarnya sebelum sampai kesana kita berusaha memoles apa yang sudah dikerjakan setahun kemarin agar kinerja kita dikatakan bagus? Jadi, tanpa kita sadari kita telah mengorbankan kemarin untuk jadi pijakan hari ini. Lagi-lagi, yang lama mendukung yang baru. Memang karena hidup kita (relatif) singkat, mau tidak mau yang kita rasakan adalah perjalanan yang linier. Begitu kita sampai hari ini, tidak mungkin lagi kemarin bisa kembali. Siklus hidup memang selalu terjadi: hari ini ada pagi-siang sore, kemarin juga begitu, sepuluh tahun yang lalu juga begitu. Besok hampir pasti juga akan begitu. Tapi pagi hari ini tetap saja beda dengan pagi kemarin, apalagi pagi sepuluh tahun yang lewat.

Menjadi lebih jelas, pagi ini seharusnya lebih baik dari pagi kemarin. Bagaimana mengukurnya? Lebih sering kita membandingkan hari ini dibanding kemarin. Bukan sebaliknya: kemarin dibanding hari ini… Dan memang aneh kalau ada yang berpikir terbalik: yang baru mendukung yang lama…

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *