BAH

Oleh: AM. Adhy Trisnanto

Mendengar sepotong kata di atas, kita mengasosiasikan dengan sebentuk cemooh, luapan ketidaksukaan terhadap sesuatu atau seseorang. Apalagi ketika di belakangnya ditaruh tanda (!). Seakan tertutup sudah tafsir lain. Kalau toh ditaruh dalam konteks yang rada berbeda, situasi Ibukota (dan mungkin juga kota-kota lain di berbagai penjuru dunia), tetap saja jadi luapan rasa tidak suka.

Kita lagi diguyur hujan. Efeknya beda jauh dengan diguyur air dingin di pagi hari. Mandi menyegarkan, hujan berkelanjutan menyesakkan. Tidak peduli rumah orang melarat, atau gedung orang kaya, tetap saja menerima dampak hujan berkelanjutan. Istilah yang dimunculkan media: cuaca ekstrim. Cuaca memang ekstrim, tapi analisis penyebab ekstrimitas itu bisa panjang lebar. Dari perubahan iklim bumi akibat ozon bolong, sampai karena kita (termasuk saya dan anda) masih saja punya kebiasaan buruk membuang sampah seenaknya. Melempar bungkus plastik ke jalan, membuang sampah ke sungai, kita tahu itu buruk, tapi tetap saja kita lakukan. Sampah dan kotoran adalah aib, dan aib harus dijauhkan dari kita. Perkara menjauh itu berarti mendekat ke orang lain, luput dari pikiran kita…

Pernah dalam sebuah pameran tentang perubahan iklim dunia, dijelaskan betapa menyalakan lampu di siang hari yang cerah, atau di malam hari saat kita tidur, adalah sebuah pemborosan energi yang punya dampak lingkungan. Begitu juga mandi dengan siraman air yang berlebihan, bahkan menyentor toilet maksimal padahal ada sentoran ekonomis, adalah tindakan pemborosan energi. Belum lagi menggunakan kertas tisue sebagai ganti sapu tangan. Memakai kantung kertas yang bukan recycling paper, dan demikian banyak hal kecil-kecil tetapi karena dilakukan berkali-kali dan oleh hampir semua orang, lalu berdampak luar biasa.

Air bah, alias banjir, dianalisis dengan berbagai cara, dari bermacam sudut pandang, oleh para pakar dan awam. Yang awam lebih kepada melampiaskan kekesalan karena selalu saja berulang mengalami rumah kebanjiran, lumpur dan sampah lain masuk rumah, kasur basah, anak-anak diare, kaki gatal-gatal. Mereka kesal karena menanggung akibat. Sementara para pakar berlomba-lomba unjuk komentar, kalau bisa di media massa, untuk menunjukkan eksistensinya. Pakar A berpendapat begini, pakar B pendapatnya lain, pakar C lain lagi. Kadang-kadang kita berpikir, kenapa para pakar tidak duduk semeja, mendiskusikan pendapatnya, dan mencari sinergi. Mungkin karena niatnya bukan mencari solusi, tetapi sekedar berkicau bersahut-sahutan. Mungkin karena menunggu orang yang mau mengundang mereka dalam satu forum. Mungkin malah karena sudah tahu dari awal kicauannya bukan untuk dilaksanakan karena tak ada seorangpun yang mau mengambil prakarsa menyelesaikan masalah. Bah!

Air memang menyejukkan, dan benar air adalah sumber kehidupan. Air biasanya sangat rendah hati, menuruni tempat yang makin rendah saja, dan mengangkut sampah apa saja dan dari siapa saja. Air jernih di mata air jadi keruh dan bau di dekat pantai. Tetapi ketika bergabung ke samodera luas, air keruh jadi biru lagi. Dia tidak mandeg memberi kehidupan, tetapi kembali menguap, dan akhirnya turun lagi jadi titik-titik hujan. Bukan main… Tapi jangan salah air itu sakti, kalau sempat lihat saja tsunami. Kalau tidak sempat nikmati gemuruh air di pinggir pantai selatan. Arus deras air ketika debitnya menaik tampak garang, menerjang apa saja yang ada di depannya.  Lagi-lagi, bukan main.

 

 

[ttn]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *