Jajan Awet

Oleh: Mochamad Yusuf

 

Dulu, sewaktu Gasibu (lapangan depan Gedung Sate Bandung) masih dipenuhi PKL di hari Minggu, saya dan istri suka jalan-jalan ke sana sambil olah raga dan membeli jajanan. Sebagai pasar kaget yang hanya ada sepekan sekali, semua barang seakan tumpah ruah di sana. Mulai dari makanan ringan olahan tepung kanji/aci seperti cilok, cireng dan cimol, hingga baju, celana, tas, dan kucing Angora yang berbulu lebat dijual disana.

Sampai suatu ketika, di lapangan yang penuh sesak itu, di tengah-tengah keramaian orang yang berjubel, ada seorang penjual yang berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya, “Jajan awet, jajan awet! Jajan awet, jajan awet!” Dari kejauhan saya penasaran dengan barang yang dijual oleh pedagang itu. Dia jualan apa sih? Jajanan apa yang awet? Kemudian saya dekati pedagang itu dan ternyata dia berjualan sandal jepit.

Terlepas dari definisi jajan itu sendiri yang artinya kurang lebih membeli makanan atau minuman ringan di pinggir jalan, dan sedikit “tertipu” dengan barang “jajanan”nya, tapi pedagang sandal jepit itu memberikan saya sebuah ide di minggu pagi, yaitu ide untuk lebih efisien dalam menggunakan anggaran belanja. Kebayang kan kalo prinsip “jajan awet” ini kita terapkan di dalam kehidupan sehari-hari, pasti barang-barang yang kita beli kebanyakan akan berumur panjang. Untuk sebuah perusahaan dengan anggaran belanja yang besar, ini akan jadi penghematan yang signifikan.  Dan hal ini akhirnya yang saya terapkan di dalam pekerjaan saya sebagai seorang desainer grafis.

Prinsip jajan awet ini mulai saya terapkan pertama kali ketika saya masih menjadi seorang inhouse designer di salah satu perusahaan jasa aqiqah ternama di kota Bandung. Saat itu kebanyakan tools-tools marketing yang dibuat berupa brosur dan spanduk tidak terlalu bertahan lama. Brosur ketika sudah sampai tangan calon customer, setelahnya ada yang disimpan (yang entah kapan lagi akan dibuka) dan sebagian lagi ada yang dibuang. Untuk spanduk, kalau ada razia dari satpol PP kemungkinan hanya bisa bertahan sebulan. Apalagi target customer aqiqah ini sangat segmented, yaitu para orang tua yang baru atau akan memiliki bayi dan beragama Islam.

Ide untuk membuat tools marketing yang lebih awet dan bertahan lama pertama kali saya terapkan pada poster promosi yang ditempatkan di mitra-mitra perusahaan jasa aqiqah tempat saya bekerja, seperti di rumah-rumah bersalin bidan dan rumah sakit bersalin yang besar. Poster itu ¾ nya berisi edukasi seputar kehamilan dan kesehatan, dan 1/3 nya berisi tentang promosi jasa aqiqah yang isinya anjuran untuk beraqiqah (menyembelih hewan aqiqah).

Poster itu diberi bingkai agar dapat dengan kokoh dipajang di ruangan tunggu pasien ibu hamil. Tidak seperti poster-poster di pinggir jalan yang terlihat mengotori tembok, poster ini terlihat lebih kokoh dan penempatannya pun elegan. Ketahanannya juga sudah teruji, terbukti dari tahun 2009 (pertama kali poster dipasang) hingga sekarang (tahun 2015) poster itu tetap menempel di dinding ruang tunggu. Saya sempet lihat poster itu ketika menjenguk teman yang baru lahiran, he he..

Contoh diatas hanya satu dari beberapa tools marketing yang saya buat berdasarkan prinsip “jajan awet.” Hingga sekarang -setelah bekerja di Kreativa sebagai creative director- saya masih mencari ide-ide bagaimana caranya agar setiap tools marketing klien yang dibuat dapat awet dan bertahan lama, terutama di masa sekarang, dimana arus informasi begitu dahsyat dan akan menenggelamkan mereka yang enggan berinovasi.

Meskipun begitu, saya tetap optimis ada banyak ide yang bisa digali dengan prinsip jajan awet ini. Atau barangkali Anda sudah mulai kepikiran membuat tools promosi yang awet? Atau membuat sesuatu yang bisa lebih awet, apapun itu. Jangan ragu untuk membuatnya dan selamat berjajan awet!

 

[ttn]

Ternyata

Oleh: M. Adhy Trisnanto

Siaran teve kita sering bikin jengkel.

Coba saja, seseorang dijadikan obyek, dikuras habis ceritanya. Udah gitu diulang-ulang terus dalam serentetan hari. Seakan-akan tidak ada hal lain yang lebih penting ketimbang orang tadi dan apa yang menimpanya. Di bagian lain, pesan yang mestinya bernas dikemas seperti lawakan. Penonton dirangsang untuk tertawa karena peragaan sebuah kekonyolan tapi pada detik berikutnya diajak merenungi sesuatu yang (sebenarnya) teramat luhur. Dan di bagian lain lagi, penonton disuguhi panggung debat, yang kadang-kadang demikian kasar. Kebenaran bisa dijungkirbalikkan. Putih jadi hitam, hitam jadi putih. Penonton yang waras pun bisa diombang-ambingkan dari pikiran satu ke pikiran lain. Siaran teve benar-benar sudah jadi industri. Semua hal, korupsi-sidang DPR-kenaikan harga-selingkuh-kecelakaan-bencana-kriminal dikemas sebagai hiburan di balik istilah infotainment. Kita harus memaknainya bukan sebagai hiburan yang informatif, melainkan informasi yang menghibur. Teve mengedepankan fungsi hiburan, dan mengebelakangkan fungsi pendidikan. Kalau sudah begini, berani taruhan orang yang setia menonton siaran teve dari pagi sampai pagi lagi tidak akan makin cerdas, tapi malah makin bodoh. Padahal teve, demikian pula media yang lain, mengemban amanat konstitusi, “mencerdaskan kehidupan bangsa”…

Para perancang program senantiasa berkilah kalau masyarakat kita emang demennya ama program-program seperti itu. Nyatanya rating program konyol selalu ada di peringkat atas. Pikiran demikian sama saja dengan mengatakan kalau orang jaman ini sukanya narkoba, ya marilah kita gelontorkan narkoba sebanyak mungkin. Teori mengenai rating sebagai satu-satunya ukuran efektivitas dan efisiensi iklan sebenarnya sudah ketinggalan jaman. Karena nyatanya program ber-rating tinggi tidak menyebabkan penonton otomatis menonton iklannya.

Merasa nyaman dalam pola pembodohan memang sikap yang paling mudah diambil. Memproduksi acara bermutu tentu saja berimplikasi ke dana, dan ada wilayah resiko yang kelabu. Padahal teve –dan media lain- tidak harus bersikap demikian. Kita bisa mengambil contoh film-film bermutu semacam Laskar Pelangi yang nyatanya mampu menyedot penonton. Bukankah dalam arus film-film horor dan vulgar, film begini juga melawan arus?

Jadi  memang media bisa berbuat lain. Lihat saja program-program pengetahuan luar biasa yang dapat kita saksikan lewat TV Berbayar. Atau cerita tentang berbagai tempat menarik di dunia. Atau film-film bermutu yang membawa pesan tertentu. Tak usah jauh-jauh, lihat saja Ekspedisi Cincin Api yang membuka mata kita tentang Indonesia yang kaya gunung berapi. Memberi pemahaman-pemahaman baru tentang Danau Toba, atau Rinjani, atau Merapi. Mereka menyebutnya beyond journalism.

Kita berharap senantiasa ada orang yang terpanggil untuk berbuat yang lebih baik. Sejarah peradaaban manusia membuktikan, ada cukup banyak orang semacam itu di setiap jaman. Memang Allah tak pernah tidur, Dia senantiasa menjagai kita..

 

[ttn]

 

 

TIPS DAN STRATEGI MARKETING

Siapa yang belum pernah mendengar kata marketing? Secara sederhana kata yang berasal dari bahasa Inggris ini diartikan sebagai pemasaran. Pemasaran itu sendiri tak selesai hanya dengan kemasan menarik, menjualnya dan kemudian mendapat uang sesuai keinginan.

Di dalam maketing ada sebuah proses yang tak bisa dilalui secara instan.  Mulai dari pengetahuan produk, kemasan, harga dan juga maintenance para konsumen. Namun keinginan manusia yang seringkali berubah meski mempunyai kebutuhan yang sama terhadap suaru barang menyebabkan dunia marketing harus mempunyai kreativitas tanpa batas. Untuk menjaring konsumen loyal dan menghasilkan keuntungan maksimal, dibutuhkan strategi yang lebih detail dalam memasarkan produk.

Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun strategi marketing:

  1. Produk yang berkualitas

Produk yang berkualitas adalah syarat mutlak untuk mendapatkan pelanggan dan menembus pasar suatu produk. Ketika di pasaran banyak sekali produk yang serupa, maka pastikan produk Anda unik dan mempunyai kualitas yang bagus sehingga mudah diterima oleh pasar.

  1. Tempat yang strategis

Tak mungkin bukan memasarkan suatu produk di tempat yang sepi? Karena itu lokasi bisa menjadi salah satu penentu utama lakunya suatu produk yang dipasarkan. Carilah tempat yang banyak dilalui orang dan pastikan mereka adalah orang-orang yang Anda sasar untuk membeli produk yang dijual.

  1. Promosi yang menarik

Banyak teknik promosi yang bisa Anda pilih untuk mengenalkan produk Anda. Entah itu melalui brosur yang disebar dari rumah ke rumah, dari angkot ke angkot, atau juga dengan memberi potongan harga pada produk yang sedang Anda pasarkan. Atau Anda juga bisa memanfaatkan jejaring sosial yang akhir-akhir ini tengah marak.

  1. Harga yang kompetitif

Selisih harga bisa menjadi hal yang amat penting untuk para calon konsumen. Oleh karena itu Anda harus memperhatikan mengenai hal tersebut.

 

[ttn]

Bagaimana Menggali Kreativitas?

Dalam bidang apapun kreativitas mutlak diperlukan. Oleh karena itu menjaga otak agar senantiasa fresh saat mencari ide-ide menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Lalu bagaimana cara agar ide-ide itu tidak macet begitu saja saat diperlukan dan kreativitas tetap terpelihara. Berikut adalah tips-tips yang dapat Anda praktekan:

Berpikir Layaknya Anak Kecil 

Yang khas dari anak kecil adalah rasa ingin tahunya tentang berbagai hal. Biasaya mereka tak pernah bosan untuk mencari tahu sesuatu hingga menemukan jawaban memuaskan. Nah, berlakulah demikian. Kosongkan pikiran, anggap Anda anak kecil yang nggak tahu apa-apa dan mulailah mengeksplore sesuatu yang Anda inginkan. Temukan ide-ide yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.

Jangan Malas Berpikir

Satu-satunya penyakit yang tak ada obatnya adalah malas. Dan jika ia sudah menjangkiti, maka tak ada yang mampu mengobati selain diri sendiri. Berpikirlah untuk segera menyelesaikan segala sesuatu secepat mungkin agar Anda dapat berleha-leha dan bermalas-malasan setelahnya, termasuk juga mencari ide-ide dalam inovasi pekerjaan Anda.

Mengubah Rutinitas

Ubah kebiasaan Anda selama ini. Misalnya Anda seorang penulis yang terbiasa begadang  dan bangun siang. Cobalah untuk istirahat lebih sore dan bangun lebih pagi. Misalnya bangun pukul 03.00 dan mulai menulis di tengah suasanan heningnya pagi. Ide-ide yang Anda dapatkan pasti juga akan berbeda dari sebelumnya.

Berpikirlah dari Sudut Pandang Orang Lain

Meski mungkin Anda sudah cukup menguasai satu bidang, tapi cobalah berpikir terbuka dengan menempatkan diri Anda di posisi orang lain. Lihatlah dari sudut pandang yang berbeda, dan Anda akan menemukan ilmu yang mungkin selama ini terlupa atau bahkan belum pernah Anda dapatkan.

 

[ttn]

-->