Asuransi Jiwa, Perlu Gak Sih?

Oleh: Ahmad Gozali

Suatu hari, ada dua orang sahabat sedang berdiskusi di pelataran masjid di area perkantoran. Ali menanyakan pada Budi apakah ia sudah memiliki asuransi untuk berjaga-jaga terhadap berbagai risiko keuangan yang mungkin terjadi.

“Bud, kamu sudah punya asuransi belum? Anak-anakmu kan masih kecil, dan istrimu tidak bekerja.”

“Ah, Ali kamu ini kaya orang kurang beriman saja. Punya asuransi itu sama saja tidak percaya pada takdir Allah. Kalau meninggal ya meninggal aja, gak usah pake asuransi segala” Timpal Budi.

“Lho, kata siapa asuransi bisa menghindarkan kita dari kematian? Tentu tidak. Asuransi kita siapkan bukan untuk yang meninggal, tapi untuk yang ditinggal.” Begitu jelas Ali.

Tak mau kalah, Budi menjelaskan “Meninggal dunia itu takdir. Masalah keluarga yang ditinggalkan itu seperti apa nantinya juga ya tergantung pada takdir mereka. Bukan urusan kita yang sudah meninggal”.

“Hari ini kita tahu takdir kemarin. Tapi kalau besok seperti apa, kita belum tahu. Makanya Allah perintahkan kita untuk berusaha. Agar ada yang menggantikan nafkah bagi keluarga yang kita tinggalkan” kata Ali dengan mantap.”

“Nah, itu sama saja kamu bergantung pada manusia, tidak boleh itu. Kita hanya diharuskan bergantung pada Allah saja. Termasuk dalam hal rezeki, jangan menggantungkan rezeki anak dan istri pada manusia lain, termasuk kepada asuransi” kata Budi dengan semangat.

“Betul banget, rezeki itu sudah Allah jamin untuk yang berusaha biar pemahaman kita lebih baik lagi, bagaimana kalau kita masuk lagi ke dalam masjid, kita cari referensi di kitab dan buku yang ada di dalam masjid. Tidak usah kembali ke kantor deh, kalau sudah jam 5 baru deh kita pulang” bujuk Ali.

Budi pun terperanjat dan menjawab, “Ah, ada-ada saja kau ini Ali, kita kan harus masuk kantor lagi. Masa bolos setegah hari. Bisa dimarahi sama bos nanti”.

“Jangan takut sama bos, takut sama Allah saja. Emangnya rezeki kamu datangnya dari bos atau dari Allah?” tantang Ali.

“Hehe…. rezeki datangnya dari Allah. Melalui perusahaan ini yang dipimpin oleh si bos. Begitu maksudnya….” Kata Budi tak mau kalah.

“Jadi, kamu bergantung pada manusia dong Bud?” kembali Ali bertanya.

“Ya tidak, rezeki itu datangnya tetap dari Allah. Yang saya usahakan dengan cara bekerja di perusahaan. Kan tidak mungkin rezeki turun begitu saja dari langit. Harus dijemput dengan ikhtiar, salah satunya ya dengan cara bekerja.”

“Nah, asuransi juga begitu Budi” kata Ali.

“Usaha untuk mendapatkan rezeki dari Allah melalui kontrak saling sepenanggungan dengan perusahaan asuransi dan sesama peserta asuransi yang lainnya. Tidak melanggar takdir kan?”

**

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan?

Mudah-mudahan bukan meninggalkan hutang ya. Tapi meninggalkan 3 amalan yang tidak ada putusnya, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan anak soleh yang mendoakan orangtuanya. Karena untuk urusan hutang, kita bisa manfaatkan asuransi untuk mengantisipasinya.

 

Image: harisazhar.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *